
“To The Bone” memperkenalkan saya pada Pamungkas yang awalnya saya tidaklah begitu terikat untuk melayani lagu-lagunya. Satu sebab kerana saya agak terganggu dengan sebutan dalam nyanyiannya. “Jawa mana yang nyanyi lagu Inggeris macam ni?” – Tapi itu dulu, saya perlahan-lahan jatuh suka sampai mendengarkannya saban hari tanpa jemu.
Begitu sekali Pamungkas mengikat saya dengan persembahan lagu-lagunya. Tapi kenapa dan bagaimana dari tidak suka itu terus terikat? Kerana liriknya. Pamungkas jujur, penulisannya dekat dengan jiwa-jiwa galau, dijauhi cinta, tergantung tak berarah atau tak menemukan apa makna hidup itu sebetulnya.
Setelah itu “Kenangan Manis”, “Closure”, “Flying Solo”, “Jejak” dan “Wait a Minute” menjadi peneman saya sebelum dia mengedarkan album kedua ketiga dan yang terkini “Birdy” – Pamungkas have a special place in my heart.
Lagu-lagunya terlalu menjerat emosi saya sebagai pendengar, mendengarkan cerita-ceritanya dalam melodi yang disiapkan seperti terlalu memahami apa yang terbuku di ruang fikir.

Maka pabila diumumkan “Birdy” tour akan menyinggah ke Kuala Lumpur saya tidak mahu melepaskan ruang dan peluang menonton Pamungkas. Sangka saya jutaan pendengar di Spotify itu tidaklah sehingga ke Kuala Lumpur impaknya, namun saya salah.
Malam konsert tersebut menyaksikan hampir 3000 penonton hadir hanya untuk sama-sama terlarut dalam lagu-lagu yang disampaikan.
“Selalunya saya menyanyikan 10 lagu tapi malam ini di Kuala Lumpur saya akan membawakan 20 lagu” -Pamungkas.
Ya, 20 lagu yang tak terasa masa berlalu cepatnya malam tersebut. Penonton malam tersebut antara yang terbaik dalam mana-mana konsert yang saya hadir – cukup behave, cukup santai menyanyi bersama dan tidak annoying.

Pamungkas malam konsert tersebut menyanyikan hampir kesemua lagu-lagu pentingnya. Dari “A Day That Feel Better”, “I Love You But I’m Letting Go”, “Birdy”, “Live Forever”, “One Only” dan dia turut menyanyikan “Risalah Hati” yang dirakam bersama Dewa 19 tahun lalu.
Pamungkas tidak banyak bicara malam tersebut tetapi setiap kali dia berkata-kata, semuanya berisi. Dia banyak bercerita tentang pengalaman hidupnya. Ditolak berkali-kali tanpa mengalah dia terus melakukan apa yang dia percaya sehingga hari ini.
“One day you will make it. if you believe in yourself enough. People will finally listen to you.”sebelum mengakhir dengan kata-kata “Siapa pun punya mimpi, kejar. Kejar sekejar kejarnya.”
Pamungkas mengingatkan saya ketika awal saya menggilai Dewa 19 juga Sheila On 7 yang mana adrenalin laju derasnya, keterujaan menonton konsert secara berdiri yang lama tidak saya rasai dan menyanyi semahu-mahunya tanpa peduli yang di kanan juga di kiri. It was a beautiful night yang akan saya kenang sebagai peminat Pamungkas.

Gambar: Harisman Satria
ARTIKEL BERKAITAN